what are you looking for?

Kamis, 23 Maret 2017

Beauty and The Beast, Melihat Wajah Baru Sebuah Fairy Tales

Walt Disney kembali mengadaptasi animasi klasiknya ke dalam live-action. Dimulai dengan Alice in Wonderland, melebarkan sayap kepada tokoh penjahat yang dieksplorasi dalam Maleficent, membuat Disney serta merta ingin mengulang kesuksesan mereka diranah film animasi. Beauty and The Beast (1991) banyak melampaui harapan dari para penikmat film-film animasi, filmnya sendiri bahkan pada zaman itu berhasil meraih Best Picture dari penghargaan Oscar, menjadikannya film animasi pertama tersukses sepanjang masa. Tak terhitung betapa banyaknya pundi-pundi kekayaan yang masuk ke gudang uang Disney. Jadi jangan terkejut jika suatu hari; dan itu terkabul hari ini, Disney akan me-remake film ini. Dengan mengandeng bintang-bintang Hollywood papan atas serta budget yang luar biasa, akankah Beauty and The Beast versi teranyar akan merajai box office?
Banyak pertanyaan yang muncul di dunia maya, apakah film teranyar Beauty and The Beast banyak berbeda dengan film animasi klasiknya tahun 1991 lalu? Kali ini gue tidak akan menjelaskan secara detail bla bla bla alur ceritanya karena memang filmnya sama persis dengan versi animasi klasiknya, but gue hanya akan menjelaskan hal-hal yang patut diperhatikan oleh kalian bahkan yang tidak mengikuti kisah ini secara langsung.
(free spoiler)

credit by Official Site

  • Misteri meninggalnya ibu Belle
Film teranyar Beauty and The Beast menjawab pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh kita-kita yang setia mengikuti kisahnya. Jika pangeran sewaktu muda dan para pelayannya dikutuk oleh penyihir menjadi setengah monster, bagaimana kisah masa kecil dari Belle?
Yap Belle kecil tinggal di Perancis. Hal ini dikisahkan dalam suatu adegan di mana Beast hendak mengantar kemana pun Belle ingin pergi menggunakan cermin ajaib. Dan bisa kita tebak Belle yang memang tidak pernah tahu apapun tentang ibunya meminta cermin ajaib membawanya ke rumah masa kecilnya. Di sana nostalgia tercipta. Saat dirinya kecil wabah hitam melanda seluruh negeri. Ibu Belle yang terjangkit wabah meminta suaminya membawa bayi Belle menjauh darinya. Terlihat pula topeng wabah yang digunakan para dokter waktu itu. Sang ayah sengaja tidak pernah memberitahukan Belle apa yang terjadi dengan ibunya.
Fyi, pangeran kecil dalam dongeng dikutuk penyihir pada usia 10 tahun dan harus menemukan cinta sejatinya sebelum dirinya genap berusia 21 tahun. Di film teranyar Beauty and The Beast pangeran tidak dikutuk selama itu.

credit by Youtube

  • Gaston dan LeFou
Kita semua tahu Gaton adalah pangeran gagah perkasa, tampan dan mempesona. Dirinya sanggup membuat semua wanita jatuh hati dengan kata-kata manisnya. Gaston sanggup memiliki semua wanita pada saat itu namun lebih memilih Belle yang tidak meyukai dirinya sama sekali. Belle yang hanya anak seorang tukang jam merasa Gaston hanya akan mempermainkan dirinya.
Di film Beauty and The Beast kali ini, Gaton bisa dibilang lebih menonjolkan sisi feminimnya. Gaston menyukai apapun yang ada pada dirinya. Dia suka berbicara dengan pantulannya di cermin, menyukai tubuh kekarnya dan lainnya. Yang lebih diluar nalar, Gaston tunduk hampir lebih kepada tangan kanannya, LeFou. Dia kan melakukan apapun yang diperintahkan LeFou, dalam hal ini yang bisa membuatnya percaya diri.
Terdapat sebuah adegan di mana Gaston memperkenalkan siapa dirinya sambil menari-nari bersama LeFou. Aneh memang seorang laki-laki tampan menari-nari dengan laki-laki yang lain. Hali ini berkembang di dunia maya adanya hubungan special yang tak terkira antara Gaston dan LeFou.
Fyi, Gaston masih tetap mati di film ini.

  • Para pelayan istana mendapat wajah baru
Live-action Beauty and The Beast ini penuh sekali efek CGI bagi para pelayan Beast yang disulap menyerupai barang-barang rumah tangga. Karakter Lumiere, Cogsworth, Mrs. Potts dan lainnya dibuat menggunakan teknologi komputer yang mustahil bisa dibuat jika live-action ini diproduksi di tahun 1991.
Karakter Cogsworth mempunyai dua buah mata bulat simetris yang menjadi bagian dari wajah jamnya. Karakter Lumiere malah memiliki mulut dan dua buah candela lilin yang disetting layaknya pot bunga. Mata dan mulut dari karakter Mrs. Potts dibuat indah yang menyatu dengan tubuh tekonya. Karakter Plumette, cinta sejati dari Lumiere dan Madame de Garderobe tidak mempunyai wajah atau muka ataupun mulut tapi dibentuk persis menyerupai sesuatu. Plumette yang dibuat bak burung merpati dan Mademe de Garderobe dibuat bak lemari pakaian. Karakter Chip yang kecil diubah menjadi cangkir dibuat serasi dengan ibunya yang merupakan sebuah teko. Banyak lagi contoh lainnya, ada piano yang bisa berbicara bahkan gantungan jaket yang bisa bergerak.

  • Kastil terlupakan
Bukan hanya Beast dan para pelayannya yang diubah bentuknya oleh si penyihir tapi juga kastilnya diubah jauh lebih kelam dari biasanya. Cuaca yang turun drastis, salju turun di mana-mana, hutan-hutan penuh serigala yang mengelilingi kastil dan juga tumbuh mawar-mawar liar di kebun.
Kastil bisa dibilang dilupakan oleh para penduduk berkat sihir hitam dari penyihir. Saat Belle memberitahu penduduk jika jauh ditengah hutan terdapat kastil yang ditinggali sesosok monster, penduduk bahkan tidak mengetahui jalan ke arah kastil. Salah seorang penduduk bahkan sempat berkata jika dia ingat sesuatu dengan kastil itu, namun ingatannya tampak kosong. Setelah kutukan Beast diangkat, semua penduduk kembali mengingat apa yang terjadi. Mereka juga mengadakan pesta dansa di sana.
Fyi, ornamen-ornamen kastil keren sekali!

  • Beast kehilangan rasa percaya dirinya
Beast ketika bertemu Belle pertama kali dalam animasi klasiknya, dia terlihat tidak memiliki perasaan dan kejam. Dia merasa setiap orang tidak harus membantunya. Memiliki ketegasan jika apapun yang diinginkannya harus terlaksana.
Di Beauty and The Beast kali ini, Beast bisa dibilang sangat galau dari awal sampai akhir. Beast memang hadir dengan tampilan lebih sangar, kuku dan taring tajam, serta suara berat yang membuat kesan Beast lebih menyeramkan terutama di awal-awal kemunculannya, namun masih juga terus-terusan memandangi kelopak bunga mawar yang sedikit demi sedikit terjatuh. Beast saat bertemu Belle merasa harapan dirinya untuk bebas mengemuka, tapi ujung-ujungnya galau lagi. Yang paling parah dia rela menunggu Belle yang pergi dengan terdiam di atas menara tertinggi. Menurut gue pribadi menilai Beast lebih nelangsa dari orang-orang yang belum makan selama setahun.

credit by Google

Grade :
Outstanding - Exceeds Expectations - Acceptable - Poor - Dreadful - Troll

Emma Watson memang benar-benar Belle. Karakter aslinya yang sudah menawan dari sananya dan kebetulan punya kebiasaan doyan membaca buku, membuat Emma seakan tak perlu bersusah-payah memainkan karakter Belle. Hanya saja perannya ini juga mengingatkan kita dengan karakternya sebagai Hermione Granger yang pernah diperankannya dalam francise film Harry Potter. Cantik, smart, dan pemberani. Ugh.
Selain dimanjakan dengan pesona Emma Watson, kita juga akan dihibur dengan karakter-karakter lain yang tak kalah mencuri perhatian. Dalam versi live-actionnya karakter Beast terlihat lebih menakutkan. Sementara itu karakter Gaston juga sukses diperankan Luke Evans yang mampu menampilkan dengan baik sifat congkak Gaston.
Layaknya film-film live-action lainnya, Beauty and the Beast tidak terlepas dari sentuhan CGI. Sayang sapuan CGI pada penampilan Beast dan beberapa hewan terlihat kurang smooth. Filmnya juga cenderung mengangkat nuansa dark, namun cepat berganti seiring dengan perpindahan setting cerita. Acungan jempol patut disematkan pada tim artistik dan wardrobe yang mampu menampilkan nuansa fairy tale khas Disney. Seperti dalam film animasinya, film ini juga mengambil setting cerita di sebuah desa di Prancis. Namun jika kita jeli, kita pasti akan merasa aneh dengan gaya bicara Belle yang kental dengan aksen British padahal ia tinggal di Prancis. Tapi sudahlah tidak perlu terlalu dipikirkan, nikmati saja keindahan filmnya.
Di balik segala kontroversinya terutama karena memuat karakter LGBT, Beauty and the Beast terbukti sukses menampilkan film musikal yang indah, apalagi lagu-lagu yang ditampilkan juga sukses membuat kita bernostalgia. Film ini pun sukses membuat kita terpesona, hanya saja tidak menawarkan hal yang baru.

credit by Official Site


Next :  Power Rangers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

time flight